Kamis, 21 November 2013

Seperti Udara (lanjutan 7)

Memang mendung disini. Aku melihat keatas. Masih ada awang yang menggantung. Aku harap tidak hujan. Aku masuk ke dalam gangku dengan santai. Ilham mengikuti dibelakangku.

“kakak rumahnya tetep yang dulu?” suaranya yang besar singgah ditelingaku.
“yaiyalah… rumah Cuma punya satu..” jawabku datar.
“oo…” komentar pendek darinya.
Aku tidak ingin orangtua ku melihatku menangis. Aku harus seceria saat aku berangkat tadi.
“Ilham…” panggilku setengah menghardik.
“ehmmm…” jawabnya dan aku memelankan laju sepedaku. Aku berhenti di pos satpam yang tidak terpakai. Ilham mengikuti dan berhenti disebelahku.
“apa?”
“gapapa J ” aku menjawab seraya tersenyum.
“-_-” Ilham balas tersenyum.
“makasih ya..”
“iya sama-sama”

Mataku terasa panas. Aku hendak menangis lagi, namun kutahan sekuat tenaga. Dan aku berhasil. Untung Ilham tidak melihat genangan air mataku.

“aku gak tau harus gimana lagi kalo gak ada kamu…” kataku tersenyum.
“aku juga…” ia melirikku. Ada kilatan tersembunyi dalam matanya.
“yuk! Bentar lagi nyampe. Oya, rumahku dari dulu berantakan, jadi jangan kaget ya….” kataku meraih sepeda dan menaikinya.
“ahh…. Gapapa kok kak…” jawabnya.

Aku terus melanjutkan mengayuh. Hingga pada suatu gang yang membelok kearah kanan, aku membelokkan sepedaku dan mengikuti jalan kecil itu. Di sebuah rumah bercat biru dengan pohon cemara menjulang di depannya, aku memelankan sepeda dan memakirnya dibawah pohon jambu.
Aku  menoleh kearah Ilham, dan memberikan kode padanya untuk memarkir di tempat dimana aku memakirkan sepedaku.

“ayo masuk…” ajakku berjalan ke dalam rumah.
Di rumah tidak ada siapa-siapa. Aku membuka rumah dengan kunci yang kubawa. Ada note kecil diatas meja saat aku membuka pintu. Ternyata orang tuaku sedang pergi. Entah aku harus senang atau tidak. Aku tidak tahu.

Kulihat keluar dan Ilham masih berdiri di jalan setapak rumahku.
“ayo masuk sini!!” kataku setengah berteriak.
Ilham menuruti perkataanku dan masuk. Ia langsung duduk dishofa sementara aku mengeluarkan air putih dari dalam kulkas. Tak lupa jambu air yang kemarin aku panen juga ikut kuhidangkan.
“ayo Ham… ojo sungkan…” aku mempersilahkan.
“lho… ortue sampean nag ndi mbak?” tanyanya dengan logatnya. Aku merasa geli.
“lagi pergi…” jawabku pendek kemudian duduk bersebrangan dari tempatnya duduk.
“sampean anak tunggal?”
“iya… -_- ‘’ perasaan dari dulu udah aku kasih tau deh….” Aku menjawab dengan ekspresi –yang benar saja–kutujukan padanya.
“heheheh….. lupa….” Ia menjawab tanpa dosa.
“nih…. Minum dulu… habis sepedaan jauh gitu… pasti capek..” kataku mendekatkan minuman dan jambu di baskom. Aku juga mengambil sebuah jambu untuk diriku sendiri.

Kurasakan tiba-tiba suasana berubah menjadi kaku dan formal. Entah kenapa aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi tanpa permisi. Meskipun aku masuk ke dalam kamar mandi, tapi aku tidak juga buang air. Aku malah berdiri memunggungi pintu kamar mandi dan melongokkan kepalaku ke dalam bak kamar mandi.
Dapat kulihat bayanganku disana. Ada gurat kesedihan, kerinduan, dan kebimbangan. Bimbang? Kenapa? Apa? Dengan siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul  mendadak. Aku tidak tahu jawabannya. Aku bingung harus menjawab apa.
Sedetik kemudian aku sudah menampar bayanganku. Terdengar air berkecipak dan membasahi tanganku. Aku masih saja mengamuk. Menyebabkan air berkecipak makin brutal. Kini wajahku ikut terkena getahnya.
Kerudung dan pakaianku juga ikut basah. Kudengar derap langkah kaki mendekat.

“mbak Dita kenapa?” suara khas Ilham.
“…………………………….” Aku tidak menjawab melainkan memilih suara-suara dalam udara yang menanyakan kebimbanganku.
“mbak?” ia maju satu langkah.
“…………………………..” suara-suara itu perlahan memelan dan kemudian menghilang sama sekali.
Bak mandi menjadi keruh, namun tidak ada riak lagi. Airnya sudah tenang. Aku mengamati tanganku yang basah kemudian meraba wajahku.
“mbak Dita!!!” kali ini suaranya tegas.
Aku membalikkan badan dan melihat ia berdiri di depanku. Aku masih menunduk. Kurasakan ketegangan itu kembali menyusup dan mengawang.  Menelisik tiap perasa yang ada.
“sampean kenapa mbak?” tanyanya.
“…………………” aku masih menunduk.
“mbak!!!” kali ini nadanya menghardik.
“………………….” Aku menatap matanya dengan kosong. Aku masih memikirkan suara-suara itu.
“mbak Dita!!” kedua tangannya memegang pundakku yang lebih pendek darinya.
Aku langsung sadar dan menepisnya dengan kasar.
“aku mau ganti baju…..” jawabku kemudian mengambil handuk.

Aku langsung kabur ke kamar depan, mengunci rapat-rapat pintunya. Namun aku belum juga mengganti bajuku. Aku malah mengambil sebuah buku. Kutuliskan apa yang harus kutuliskan disana. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Sepuluh menit kemudian aku keluar dan mendapati setengah dari isi baskom telah kosong. Aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi tak bersalah Ilham.

“wah….. kamu doyan banget..” kataku seraya mengembalikan handuk.
“yaiyalah…… lha sampean malah ngilang gak jelas”
Aku kembali ke hadapannya dengan cepat kemudian duduk dan mengambil jambu.
“kak, aku pulang dulu ya……”
“lho? Kok buru-buru?” kataku spontan.
“lha tadi sampean malah semedi di kamar mandi……..” jawabnya seraya bangkit.
“maaf……….. maaf…….” Kataku menyesal.
“pulang dulu ya….” katanya keluar dan berjalan menghampiri sepedanya.
“oke… ati-ati di jalan”
“iya iya…”
“jangan lupa sering-sering main ke sini…”


Aku mengantarnya hingga ia hilang dibelokan jalan. Aku berharap dia adalah Awang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar