Memang mendung disini.
Aku melihat keatas. Masih ada awang yang menggantung. Aku harap tidak hujan.
Aku masuk ke dalam gangku dengan santai. Ilham mengikuti dibelakangku.
“kakak rumahnya tetep
yang dulu?” suaranya yang besar singgah ditelingaku.
“yaiyalah… rumah Cuma
punya satu..” jawabku datar.
“oo…” komentar pendek
darinya.
Aku tidak ingin
orangtua ku melihatku menangis. Aku harus seceria saat aku berangkat tadi.
“Ilham…” panggilku
setengah menghardik.
“ehmmm…” jawabnya dan
aku memelankan laju sepedaku. Aku berhenti di pos satpam yang tidak terpakai.
Ilham mengikuti dan berhenti disebelahku.
“apa?”
“gapapa J ” aku menjawab seraya tersenyum.
“-_-” Ilham balas
tersenyum.
“makasih ya..”
“iya sama-sama”
Mataku terasa panas.
Aku hendak menangis lagi, namun kutahan sekuat tenaga. Dan aku berhasil. Untung
Ilham tidak melihat genangan air mataku.
“aku gak tau harus
gimana lagi kalo gak ada kamu…” kataku tersenyum.
“aku juga…” ia
melirikku. Ada kilatan tersembunyi dalam matanya.
“yuk! Bentar lagi
nyampe. Oya, rumahku dari dulu berantakan, jadi jangan kaget ya….” kataku
meraih sepeda dan menaikinya.
“ahh…. Gapapa kok
kak…” jawabnya.
Aku terus melanjutkan
mengayuh. Hingga pada suatu gang yang membelok kearah kanan, aku membelokkan
sepedaku dan mengikuti jalan kecil itu. Di sebuah rumah bercat biru dengan
pohon cemara menjulang di depannya, aku memelankan sepeda dan memakirnya
dibawah pohon jambu.
Aku menoleh kearah Ilham, dan memberikan kode
padanya untuk memarkir di tempat dimana aku memakirkan sepedaku.
“ayo masuk…” ajakku
berjalan ke dalam rumah.
Di rumah tidak ada
siapa-siapa. Aku membuka rumah dengan kunci yang kubawa. Ada note kecil diatas
meja saat aku membuka pintu. Ternyata orang tuaku sedang pergi. Entah aku harus
senang atau tidak. Aku tidak tahu.
Kulihat keluar dan
Ilham masih berdiri di jalan setapak rumahku.
“ayo masuk sini!!”
kataku setengah berteriak.
Ilham menuruti
perkataanku dan masuk. Ia langsung duduk dishofa sementara aku mengeluarkan air
putih dari dalam kulkas. Tak lupa jambu air yang kemarin aku panen juga ikut
kuhidangkan.
“ayo Ham… ojo
sungkan…” aku mempersilahkan.
“lho… ortue sampean
nag ndi mbak?” tanyanya dengan logatnya. Aku merasa geli.
“lagi pergi…” jawabku
pendek kemudian duduk bersebrangan dari tempatnya duduk.
“sampean anak
tunggal?”
“iya… -_- ‘’ perasaan
dari dulu udah aku kasih tau deh….” Aku menjawab dengan ekspresi –yang benar
saja–kutujukan padanya.
“heheheh….. lupa….” Ia
menjawab tanpa dosa.
“nih…. Minum dulu…
habis sepedaan jauh gitu… pasti capek..” kataku mendekatkan minuman dan jambu
di baskom. Aku juga mengambil sebuah jambu untuk diriku sendiri.
Kurasakan tiba-tiba
suasana berubah menjadi kaku dan formal. Entah kenapa aku melangkahkan kaki
menuju kamar mandi tanpa permisi. Meskipun aku masuk ke dalam kamar mandi, tapi
aku tidak juga buang air. Aku malah berdiri memunggungi pintu kamar mandi dan
melongokkan kepalaku ke dalam bak kamar mandi.
Dapat kulihat
bayanganku disana. Ada gurat kesedihan, kerinduan, dan kebimbangan. Bimbang?
Kenapa? Apa? Dengan siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul mendadak. Aku tidak tahu jawabannya. Aku
bingung harus menjawab apa.
Sedetik kemudian aku
sudah menampar bayanganku. Terdengar air berkecipak dan membasahi tanganku. Aku
masih saja mengamuk. Menyebabkan air berkecipak makin brutal. Kini wajahku ikut
terkena getahnya.
Kerudung dan pakaianku
juga ikut basah. Kudengar derap langkah kaki mendekat.
“mbak Dita kenapa?”
suara khas Ilham.
“…………………………….” Aku
tidak menjawab melainkan memilih suara-suara dalam udara yang menanyakan
kebimbanganku.
“mbak?” ia maju satu
langkah.
“…………………………..”
suara-suara itu perlahan memelan dan kemudian menghilang sama sekali.
Bak mandi menjadi
keruh, namun tidak ada riak lagi. Airnya sudah tenang. Aku mengamati tanganku
yang basah kemudian meraba wajahku.
“mbak Dita!!!” kali
ini suaranya tegas.
Aku membalikkan badan
dan melihat ia berdiri di depanku. Aku masih menunduk. Kurasakan ketegangan itu
kembali menyusup dan mengawang.
Menelisik tiap perasa yang ada.
“sampean kenapa mbak?”
tanyanya.
“…………………” aku masih
menunduk.
“mbak!!!” kali ini
nadanya menghardik.
“………………….” Aku menatap
matanya dengan kosong. Aku masih memikirkan suara-suara itu.
“mbak Dita!!” kedua
tangannya memegang pundakku yang lebih pendek darinya.
Aku langsung sadar dan
menepisnya dengan kasar.
“aku mau ganti
baju…..” jawabku kemudian mengambil handuk.
Aku langsung kabur ke
kamar depan, mengunci rapat-rapat pintunya. Namun aku belum juga mengganti
bajuku. Aku malah mengambil sebuah buku. Kutuliskan apa yang harus kutuliskan
disana. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Sepuluh menit kemudian
aku keluar dan mendapati setengah dari isi baskom telah kosong. Aku hanya
tersenyum geli melihat ekspresi tak bersalah Ilham.
“wah….. kamu doyan
banget..” kataku seraya mengembalikan handuk.
“yaiyalah…… lha sampean
malah ngilang gak jelas”
Aku kembali ke
hadapannya dengan cepat kemudian duduk dan mengambil jambu.
“kak, aku pulang dulu
ya……”
“lho? Kok buru-buru?”
kataku spontan.
“lha tadi sampean
malah semedi di kamar mandi……..” jawabnya seraya bangkit.
“maaf……….. maaf…….” Kataku
menyesal.
“pulang dulu ya….”
katanya keluar dan berjalan menghampiri sepedanya.
“oke… ati-ati di jalan”
“iya iya…”
“jangan lupa
sering-sering main ke sini…”
Aku mengantarnya
hingga ia hilang dibelokan jalan. Aku berharap dia adalah Awang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar