Semuaya telah
siap. Aku telah mengemasi semua barang-barangku. Tinggal pamit ke tetangga
sebelah dan minta do’a restu. Aku bisa merasakan senyumku mengembang saat
meninggalkan apartemenku.
“où vous
irez?” Tanya Vilda.
“Je vais
aller à mon pays natal, en Indonésie” jawabku tak berhenti tersenyum. Kulihat kedua
alis matanyanya bertaut heran.
“pourquoi?”
ia masih bertanya.
“il ya
des choses que je dois y finir” aku menjawab seraya menghampirinya.
“quand
vous reviendrez?” kulihat matanya sayu.
“ne vous
inquiétez pas, je reviendrai quand mon entreprise se fait” jawabku seraya
memeluknya.
“tu me
le promets?” ia sangsi.
“Insya
allah. si Allah me permet” jawabku lalu berjalan menuruni tangga dan
mengucapkan kata-kata perpisahan pada semua tetanggaku.
Aku aka
berpisah dengan mereka. Sekai aku mengucapkan kata perpisahan, berarti aku
harus berpisah dengan mereka dan tidak bertemu lagi.
Sekelebat
memoriku terbentuk dan menggumpal.
Aku mendongak
dan menatap awan yang berarak disebelah timur. Taksi yang kupesan belum datang.
Aku harus menungu.
Aku kembali
ingat kata-kata perpisahan yang ia ucapkan padaku. Dulu. Tapi dalam hati aku
membatin, “Jangan ucapkan perpisahan kalau kau ingin bertemu denganku lagi. Entah
saat itu kia memiliki hubungan atau sebagai individu yang tidak saling
mengenal.”
Air mataku
menetes. Betapa ia tak berperasaan saat mengucapkan kata-kata perpisahan itu. Namun,
biarlah…
Aku yakin
kami akan bertemu lagi.
Taksi yang
kutunggu telah dating.
“pardonnez-moi
pour mon retard” katanya meminta maaf lalu membantuku memindahkan koperku ke
bagasi.
“ça ne
fait rien” jawabku seraya tersenyum.
Sebelum ke
bandara, aku harus ke rumah sahabatku terlebih dahulu. Sahabat yang dulu pernah
serumah denganku, namun kini ia mengikuti suaminya dan pindah rumah. Sahabat
yang telah membuatku mengucapkan janji pada seseorang yang dia sakiti. Da sahabat
yang menyakitiku dari hari ke hari. Sahabat yang membohongiku da
mengkambinghitamkan aku.
Aku
menghela nafas mengingat semua keburukannya. Kemudian kucoba menghilangkan semua
keburukan itu dengan kebaikannya.
Ia seorang
sahabat. Dimana aku bisa menceritakan apa yang tidak bias kuceritakan pada
orang lain. Ia sahabat yang paling mengerti aku. Ia sahabat dimana aku bias berbagi,
dan menganggap milik ku adalah milikmu.
Aku tersenyum
getir. Bahkan aku rela melepas seseorang yang lebih penting untuk sahabat
semacam itu. Entah. Biarkanlah air sungai bermuara pada laut.
Aku telah
sampai. Kulihat suaminya sedang bermain di luar bersama anak-anaknya.
“assalamu
alaikum…” sapaku tersenyum.
“wa’alaikummussalam”
jawab mereka hampir serempak. Namun tak kulihat ia di sana.
“dimana
Liva?” aku bertanya sambil menggendong Abdul yang menarik kakiku.
“masih
masak mungkin” jawab Mario.
“bias panggilkan
sebentar?” pintaku.
“tunggu”
jawab Mario lalu berlari ke dalam rumah.
Tak lama,
Mario keluar bersama Liva.
“hai….
Dita sahabatku….” Kata Liva memelukku. Abdul langsung minta digendong Liva.
“sibuk
ya?” tanyaku mengerutkan kening.
“lumayan
sih… ada apa?” ia bertaya balik.
“aku mau
pulang ke Indonesia” jawabku dengan ekspresi meminta maaf.
“hah?!!
Kapan?” Liva shock.
“hari
ini. Orang tuaku sudah kangen nihh…” jawabku.
“kok gak
ngabarin dari kemarin sih? Kan aku juga mau ikut?” dari nadanya kurasa ia
jengkel.
“yahhh….
Maaf… aku kan baru dapat e-mail dari ayahku semalam…” jawabku.
“kamu
terburu-buru?” Mario menyela.
“tidak
juga…” aku berbohong.
“hmmmm….
Ya sudah deh…. Tuh taksimu uda nunggu,.,,” kata Liva akhirnya.
“bener
nih? Eh, punya sangu gak buat di jalan?” aku menjawab denga ekspresi memelas.
“mau kue
coklat keju?” tawarnya.
“mau mau
mau….” Aku menjawab seperti anak kecil.
“Sayang….
Tolong ambilin di kulkas ya…. Semuanya juga boleh…” pinta Liva pada suaminya.
Mario hanya
menuruti kata istrinya. Sementara aku dan Liva berbincang mengenang masa lalu
kami. Mario kembali dengan bungkusan putih di tangan.
“nih…
jajan buat di jalan…” kata Liva.
“heheheh….
Oke.. oke…” jawabku seraya tersenyum lebar. Namun, kulihat kesedihan dimata
Liva.
“tenang
saja, Insya Allah aku balik kok” kataku memeluk Liva da menenangkannya.
“janji?”
ia mengkonfirmasi.
“insya
allah” jawabku kalem.
“tuh…
ntar argonya mahal….” Kata Mario.
“sayounara…
jaga Liva baik-baik ya, Mario.” Kataku meninggalkan mereka.
“kamu
juga hati-hati di jalan” kata Liva dan Mario hampir berbarengan.
Aku menghampiri
taksi tanpa menoleh kebelakang.
Dulu, Liva-lah
yang mengucapkan selamat tinggal. Tapi, dia juga yang masih ingin bertemu
denganku.
“Allons
à l'aéroport Charles de Gaulle” kataku pada sopir taksi.
“oui,
mam” jawabnya.
“voulez-vous
cela?” tanyaku seraya menangsurkan kue yang tadi Liva berikan padaku.
“N'est-ce
pas donner votre meilleur ami?” tanyanya melirikku dari spion.
“oui, en
effet. mais j'ai pris ma part. Je ne pouvais pas tout manger.” Jawabku sambil
tersenyum.
“ok. à
vous de mam” jawabnya.
Aku mengangsurkan
isi plastic itu kearahnya. Ia menerimanya seraya melirikku.
“merci”
jawabnya.
Aku mengangguk
dan tersenyum seraya membalas, “soyez le bienvenu”
Perjalanan ke
Charles de Gaule….
Kuharap cepat.
Aku tak sabar ingin sampai rumah.
Sampai di
Indonesia.
Sampai
di Gresik…
Terlalu banyak
kenangan di Gresik, sehingga sulit kulupakan. Dan janjiku padanya…
Aku akan
menepatinya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar