Rabu, 06 November 2013

Seperti Udara (lanjutan 2)


Semuaya telah siap. Aku telah mengemasi semua barang-barangku. Tinggal pamit ke tetangga sebelah dan minta do’a restu. Aku bisa merasakan senyumku mengembang saat meninggalkan apartemenku.

“où vous irez?” Tanya Vilda.
“Je vais aller à mon pays natal, en Indonésie” jawabku tak berhenti tersenyum. Kulihat kedua alis matanyanya bertaut heran.
“pourquoi?” ia masih bertanya.
“il ya des choses que je dois y finir” aku menjawab seraya menghampirinya.
“quand vous reviendrez?” kulihat matanya sayu.
“ne vous inquiétez pas, je reviendrai quand mon entreprise se fait” jawabku seraya memeluknya.
“tu me le promets?” ia sangsi.
“Insya allah. si Allah me permet” jawabku lalu berjalan menuruni tangga dan mengucapkan kata-kata perpisahan pada semua tetanggaku.

Aku aka berpisah dengan mereka. Sekai aku mengucapkan kata perpisahan, berarti aku harus berpisah dengan mereka dan tidak bertemu lagi.
Sekelebat memoriku terbentuk dan menggumpal.
Aku mendongak dan menatap awan yang berarak disebelah timur. Taksi yang kupesan belum datang. Aku harus menungu.

Aku kembali ingat kata-kata perpisahan yang ia ucapkan padaku. Dulu. Tapi dalam hati aku membatin, “Jangan ucapkan perpisahan kalau kau ingin bertemu denganku lagi. Entah saat itu kia memiliki hubungan atau sebagai individu yang tidak saling mengenal.”

Air mataku menetes. Betapa ia tak berperasaan saat mengucapkan kata-kata perpisahan itu. Namun, biarlah…
Aku yakin kami akan bertemu lagi.

Taksi yang kutunggu telah dating.
“pardonnez-moi pour mon retard” katanya meminta maaf lalu membantuku memindahkan koperku ke bagasi.
“ça ne fait rien” jawabku seraya tersenyum.

Sebelum ke bandara, aku harus ke rumah sahabatku terlebih dahulu. Sahabat yang dulu pernah serumah denganku, namun kini ia mengikuti suaminya dan pindah rumah. Sahabat yang telah membuatku mengucapkan janji pada seseorang yang dia sakiti. Da sahabat yang menyakitiku dari hari ke hari. Sahabat yang membohongiku da mengkambinghitamkan aku.

Aku menghela nafas mengingat semua keburukannya. Kemudian kucoba menghilangkan semua keburukan itu dengan kebaikannya.

Ia seorang sahabat. Dimana aku bisa menceritakan apa yang tidak bias kuceritakan pada orang lain. Ia sahabat yang paling mengerti aku. Ia sahabat dimana aku bias berbagi, dan menganggap milik ku adalah milikmu.

Aku tersenyum getir. Bahkan aku rela melepas seseorang yang lebih penting untuk sahabat semacam itu. Entah. Biarkanlah air sungai bermuara pada laut.

Aku telah sampai. Kulihat suaminya sedang bermain di luar bersama anak-anaknya.
“assalamu alaikum…” sapaku tersenyum.
“wa’alaikummussalam” jawab mereka hampir serempak. Namun tak kulihat ia di sana.
“dimana Liva?” aku bertanya sambil menggendong Abdul yang menarik kakiku.
“masih masak mungkin” jawab Mario.
“bias panggilkan sebentar?” pintaku.
“tunggu” jawab Mario lalu berlari ke dalam rumah.

Tak lama, Mario keluar bersama Liva.
“hai…. Dita sahabatku….” Kata Liva memelukku. Abdul langsung minta digendong Liva.
“sibuk ya?” tanyaku mengerutkan kening.
“lumayan sih… ada apa?” ia bertaya balik.
“aku mau pulang ke Indonesia” jawabku dengan ekspresi meminta maaf.
“hah?!! Kapan?” Liva shock.
“hari ini. Orang tuaku sudah kangen nihh…” jawabku.
“kok gak ngabarin dari kemarin sih? Kan aku juga mau ikut?” dari nadanya kurasa ia jengkel.
“yahhh…. Maaf… aku kan baru dapat e-mail dari ayahku semalam…” jawabku.
“kamu terburu-buru?” Mario menyela.
“tidak juga…” aku berbohong.
“hmmmm…. Ya sudah deh…. Tuh taksimu uda nunggu,.,,” kata Liva akhirnya.
“bener nih? Eh, punya sangu gak buat di jalan?” aku menjawab denga ekspresi memelas.
“mau kue coklat keju?” tawarnya.
“mau mau mau….” Aku  menjawab seperti anak kecil.
“Sayang…. Tolong ambilin di kulkas ya…. Semuanya juga boleh…” pinta Liva pada suaminya.
Mario hanya menuruti kata istrinya. Sementara aku dan Liva berbincang mengenang masa lalu kami. Mario kembali dengan bungkusan putih di tangan.
“nih… jajan buat di jalan…” kata Liva.
“heheheh…. Oke.. oke…” jawabku seraya tersenyum lebar. Namun, kulihat kesedihan dimata Liva.
“tenang saja, Insya Allah aku balik kok” kataku memeluk Liva da menenangkannya.
“janji?” ia mengkonfirmasi.
“insya allah” jawabku kalem.

“tuh… ntar argonya mahal….” Kata Mario.
“sayounara… jaga Liva baik-baik ya, Mario.” Kataku meninggalkan mereka.
“kamu juga hati-hati di jalan” kata Liva dan Mario hampir berbarengan.

Aku menghampiri taksi tanpa menoleh kebelakang.
Dulu, Liva-lah yang mengucapkan selamat tinggal. Tapi, dia juga yang masih ingin bertemu denganku.

“Allons à l'aéroport Charles de Gaulle” kataku pada sopir taksi.
“oui, mam” jawabnya.
“voulez-vous cela?” tanyaku seraya menangsurkan kue yang tadi Liva berikan padaku.
“N'est-ce pas donner votre meilleur ami?” tanyanya melirikku dari spion.
“oui, en effet. mais j'ai pris ma part. Je ne pouvais pas tout manger.” Jawabku sambil tersenyum.
“ok. à vous de mam” jawabnya.
Aku mengangsurkan isi plastic itu kearahnya. Ia menerimanya seraya melirikku.
“merci” jawabnya.
Aku mengangguk dan tersenyum seraya membalas, “soyez le bienvenu”

Perjalanan ke Charles de Gaule….
Kuharap cepat. Aku tak sabar ingin sampai rumah.
Sampai di Indonesia.
Sampai di Gresik…

Terlalu banyak kenangan di Gresik, sehingga sulit kulupakan. Dan janjiku padanya…
Aku akan menepatinya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar