Lega. Itulah
yang kurasaka saat pesawat lepas landas dari bandara Charles de Gaulle. Tidak ada
penyesalan yang tertinggal. Yang ada hanyalah harapan akan masa depan.
Kini aku
telah sampai di bandara Juanda. Aku menuju tempat dimana kedua orang tuaku
telah menungguku.
Kulihat keriput
di wajah mereka. Ada gurat kerinduan di sana.
“ibu…..
bapak…..” kataku menghampiri mereka.
“Dita….”
Kata mereka hampir bersamaan.
Kami menumpahkan
rindu sambil berpelukan seperti teletubbies.
Gresik…
Betapa aku
dapat mencium aroma mu…
Aku dapat
menikmati kemolekanmu, merasakan desah nafasmu…
Mendengar
denyut jantungmu setiap hari…
Dan melihat
tingkah polah mu…
Kebahagiaan
menyeruak dalam dadaku saat aku telah sampai di halaman rumah. Sengaja ayahku
tidak langsung kerja karena ada aku yang datang jauh-jauh dari Paris. Tetanggaku
juga ikut menengok ku. Sebagian dari mereka ada yang telah pindah dan digantikan
wajah-wajah baru yang tidak ku kenal.
Aku merindukan
kamar ku…
Kamar dimana
aku membuat janjiku dengannya tujuh tahun silam…
kamar
dimana hanya tuhan yang tahu apa yang kulakukan…
kamar dimana
aku bermimpi tentangnya setiap malam.
Aku memandang
ke halaman rumah.
Ada bayangannya
di sana. Ia duduk diatas sepeda motornya dan menatapku saat aku masuk ke dalam
rumah.
Aku melihat
itu semua sebagai orang ke-3. Lucu kelihatannya aku melihat diriku beberapa
tahun silam sebagai aktor dalam film kehidupanku.
Itu semua…
Kenangan
yang indah. Meskipun ada banyak air mata dan sakit hati yang ada, aku
menyikapinya sebagai jaminan kebahagiaan masa depan.
Aku
ingin duduk dibelakangnya saat ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan
120 km/jam bahkan lebih, dan aku berteriak ketakutan. Aku tersenyum dan meneteskan air mata
saat mengenang kejadian itu.
Semuanya
terasa indah. Terlihat cantik. Terdengar merdu. Terasa manis.
Aku akan
merasakan yang seperti itu lagi….
Mungkin besok….
Ya,
secepatnya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar