Rabu, 06 November 2013

Seperti Udara (lanjutan 3)


Lega. Itulah yang kurasaka saat pesawat lepas landas dari bandara Charles de Gaulle. Tidak ada penyesalan yang tertinggal. Yang ada hanyalah harapan akan masa depan.

Kini aku telah sampai di bandara Juanda. Aku menuju tempat dimana kedua orang tuaku telah menungguku.
Kulihat keriput di wajah mereka. Ada gurat kerinduan di sana.
“ibu….. bapak…..” kataku menghampiri mereka.
“Dita….” Kata mereka hampir bersamaan.
Kami menumpahkan rindu sambil berpelukan seperti teletubbies.

Gresik…
Betapa aku dapat mencium aroma mu…
Aku dapat menikmati kemolekanmu, merasakan desah nafasmu…
Mendengar denyut jantungmu setiap hari…
Dan melihat tingkah polah mu…

Kebahagiaan menyeruak dalam dadaku saat aku telah sampai di halaman rumah. Sengaja ayahku tidak langsung kerja karena ada aku yang datang jauh-jauh dari Paris. Tetanggaku juga ikut menengok ku. Sebagian dari mereka ada yang telah pindah dan digantikan wajah-wajah baru yang tidak ku kenal.

Aku merindukan kamar ku…
Kamar dimana aku membuat janjiku dengannya tujuh tahun silam…
kamar dimana hanya tuhan yang tahu apa yang kulakukan…
kamar dimana aku bermimpi tentangnya setiap malam.

Aku memandang ke halaman rumah.
Ada bayangannya di sana. Ia duduk diatas sepeda motornya dan menatapku saat aku masuk ke dalam rumah.
Aku melihat itu semua sebagai orang ke-3. Lucu kelihatannya aku melihat diriku beberapa tahun silam sebagai aktor dalam film kehidupanku.

Itu semua…
Kenangan yang indah. Meskipun ada banyak air mata dan sakit hati yang ada, aku menyikapinya sebagai jaminan kebahagiaan masa depan.

Aku ingin duduk dibelakangnya saat ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan 120 km/jam bahkan lebih, dan aku berteriak ketakutan. Aku tersenyum dan meneteskan air mata saat mengenang kejadian itu.

Semuanya terasa indah. Terlihat cantik. Terdengar merdu. Terasa manis.
Aku akan merasakan yang seperti itu lagi….
Mungkin besok….
Ya, secepatnya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar