Akankah aku memulainya
hari ini? Aku memang tidak sabar, tapi aku mencoba untuk bersabar. Dan hari ini
kuharap hari yang tepat untuk itu.
Ya, aku akan pergi ke
rumahnya. Meskipun aku tidak akan bertemu dengannya, tapi aku akan tetap ke
sana. Berharap bertemu dengan Puput, yang juga temannya. Aku teringat
percakapanku via handphone tadi malam dengan gadis itu.
“ini puput ya?”
tanyaku setelah mengucapkan salam.
“ya. ini siapa?” ia
balik bertanya. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut dari tujuh tahun yang
lalu.
“ini Dita. yang dulu
ikut teater loh…” jawabku setengah tersenyum.
“oooalahhh…. Kak Dita.
emang kenapa kak?” suaranya melunak.
“gimana kabarmu?”
tanyaku basa-basi.
“alhamdulilah kak
baik, kakak sendiri gimana?” ia balas bertanya.
“alhamdulilah juga”
jawabku.
“katanya balik ke
Indonesia?” ia bertanya.
“iya nih sudah sampai
dari kemarin…” jawabku.
“waduh… mana
oleh-olehnya?” terdengar canda dari nada suaranya.
“ya besok tak anterin
ke sana deh….” Jawabku bercanda tapi juga serius.
“lho iya ta?” nada
suaranya tak percaya dengan keseriusanku.
“iya. Sekarang kamu di
Laban kan?” aku bertanya dan dapat kurasakan jantungku berdegup kencang.
“iya dong kak. Atau…..
kakak mau main ke rumahnya Awang ya?” ia bertanya menyelidik. Ia masih ingat
dengan episode itu. Aku tersenyum geli.
“heheheh…. Iya… apa
dia masih di situ?” aku benar-benar khawatir.
“hmmmm……” suaranya
terdengar bimbang.
“Put???” aku
memanggilnya lemah.
“orang tuanya masih di
situ, tapi sekarang Awang ikut pamannya layar.” Jawabnya dengan penyesalan.
“layar? Dia jadi koki
kapal ya?” tebak ku.
“kok kakak tau?” ia
heran.
“dia pernah cerita
tentang itu padaku” jawabku. Semburat senyum dapat kurasakan saat aku mendengar
bahwa ia telah meraih salah satu tujuannya.
“oohhh….” Komentarnya.
“apa dia sekarang di
rumah?” pertanyaan bodoh.
“enggak… mungkin kakak
harus bicara sama ortunya dulu…” sarannya.
“tentu saja… besok
sekalian anterin aku ya…” pintaku.
“oke kak” jawabnya.
“makasih ya” kataku,
air mataku hampir tumpah.
“sama-sama” balasnya.
Telepon kuakhiri. Ada seorang
lagi yang ingin kuhubungi. Ia adalah sahabat baiknya sekaligus adik
kelas yang kuanggap sebagai adikku. Ilham.
“hallo assalamu
alaikum” aku mengucapkan salam
“wa’alaikum salam”
suaranya terdengar ramah.
“Ilham Rosyidi?” aku
memastikan.
“kak Dita?” ia
membalas sapaanku.
“iya. Ilham!!!! Aku kangen
kamu…. Gimana kabarmu?” jawabku histeris. Teringat dalam kepalaku kelakuannya
saat di teater.
“alhamdulilah baik
kak. Kakak sendiri?” dapat kulihat senyum diwajahnya.
“alhamdulilah dek….” Aku
turut tersenyum.
“uda pulang dari Paris
ta kak?” suaranya masih seperti dulu, meski sedikit berat dan serak.
“sudah. Kemarin. Eh,
kamu masih di Gresik ta?” tanyaku langsung to the point.
“iya. Emang kenapa
kak?” kulihat dahinya berkerut.
“engg….. mau kuajak ke
rumahnya Awang..” jawabku lirih.
“oalah…. Iya. Insya Allah
besok bisa.” Ada senyum dalam kalimatnya.
“oke deh. Makasih dek…”
kataku kemudian mengakhiri percakapan.
Aku berpikiran hendak
menelepon seseorang lagi. Orang ke 5 dalam episode ini. Orang yang membuat dia
membenciku dan mejauhiku. Orang yang telah membuatku berjanji. Ya. tekadku
sudah bulat.
“assalamu alaikum… ini
Fahri?” tanyaku saat ada yng mengangkat.
“iya. Ini siapa?” ia
balik bertanya. Aku memang jarang berkomunikasi dengannya.
“ini Dita. dari
teater. Inget?” aku bertanya dan menyembunyikan sakit hatiku.
“iya.” tak ada
ekspresi dalam suaranya.
“kamu masih di Gresik
ta?” aku bertanya sesopan mungkin.
“enggak. Aku ada di
Jawa Tengah” jawabnya.
“oalah… ya sudah kalo
gitu… maaf ganggu…” jawabku lalu mengakhiri percakapan.
Dia tidak ikut. Sudah kuduga.
Kebenciannya padaku tak akan pernah hilang. Entahlah.
Itu kemarin malam. Sekarang
telah pagi dan aku siap dengan rencanaku. Aku mengendarai sepeda pancalku dan
menuju kearah Putat, kemudian ke Domas, melewati SMP ku dulu, melewati
Bringkang, dan sampai di pasar Menganti.
Aku berhenti sebentar
dan menepikan sepedaku di Alfamart. Aku mengeluarkan hp dan menelpon Ilham. Ku katakan
padanya kalau aku telah sampai di Pasar Menganti dan aku meneunggunya di sana.
Tak lama kemudian, ada
seorang pemuda menghampiriku. Ia terlihat cerah dan bersahabat. Raut wajahnya
juga ku kenali. Ilham. Aku merindukan dia.
“kakak nunggu lama ta?”
tanyanya.
“enggak kok dek…”
jawabku tersenyum dan mengamatinya dari bawah keatas.
“kakak sekarang makin
cantik…” godanya.
“justru kamu yang
tambah endut…” balasku.
“heheheheh….” Ia hanya
terkekeh.
“yuk… ntar puput
nungguin…” kataku menaiki sepedaku.
“emang Awang dirumah? Tadi
malam aku telepon katanya masih layar……..” jawabnya.
“iya aku tahu…”
jawabku menoleh kebelakang.
“Trus?” ia memasang
muka tak berdosa.
“sudah… yuk!!!!” aku
memancal sepedaku dengan semangat dan jantung berdebar.
Sudah tujuh tahun lamanya
aku tidak bertemu dengannya, untung Puput bisa kuajak kerja sama. Heheheheheh,
aku terkekeh dalam hati. Aku memang bodoh. Ya, sperti katanya, aku adalah baka
yaru, komo yaru. Tapi biarlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar