Kamis, 07 November 2013

Seperti Udara (lanjutan 4)

Akankah aku memulainya hari ini? Aku memang tidak sabar, tapi aku mencoba untuk bersabar. Dan hari ini kuharap hari yang tepat untuk itu.
Ya, aku akan pergi ke rumahnya. Meskipun aku tidak akan bertemu dengannya, tapi aku akan tetap ke sana. Berharap bertemu dengan Puput, yang juga temannya. Aku teringat percakapanku via handphone tadi malam dengan gadis itu.
“ini puput ya?” tanyaku setelah mengucapkan salam.
“ya. ini siapa?” ia balik bertanya. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut dari tujuh tahun yang lalu.
“ini Dita. yang dulu ikut teater loh…” jawabku setengah tersenyum.
“oooalahhh…. Kak Dita. emang kenapa kak?” suaranya melunak.
“gimana kabarmu?” tanyaku basa-basi.
“alhamdulilah kak baik, kakak sendiri gimana?” ia balas bertanya.
“alhamdulilah juga” jawabku.
“katanya balik ke Indonesia?” ia bertanya.
“iya nih sudah sampai dari kemarin…” jawabku.
“waduh… mana oleh-olehnya?” terdengar canda dari nada suaranya.
“ya besok tak anterin ke sana deh….” Jawabku bercanda tapi juga serius.
“lho iya ta?” nada suaranya tak percaya dengan keseriusanku.
“iya. Sekarang kamu di Laban kan?” aku bertanya dan dapat kurasakan jantungku berdegup kencang.
“iya dong kak. Atau….. kakak mau main ke rumahnya Awang ya?” ia bertanya menyelidik. Ia masih ingat dengan episode itu. Aku tersenyum geli.
“heheheh…. Iya… apa dia masih di situ?” aku benar-benar khawatir.
“hmmmm……” suaranya terdengar bimbang.
“Put???” aku memanggilnya lemah.
“orang tuanya masih di situ, tapi sekarang Awang ikut pamannya layar.” Jawabnya dengan penyesalan.
“layar? Dia jadi koki kapal ya?” tebak ku.
“kok kakak tau?” ia heran.
“dia pernah cerita tentang itu padaku” jawabku. Semburat senyum dapat kurasakan saat aku mendengar bahwa ia telah meraih salah satu tujuannya.
“oohhh….” Komentarnya.
“apa dia sekarang di rumah?” pertanyaan bodoh.
“enggak… mungkin kakak harus bicara sama ortunya dulu…” sarannya.
“tentu saja… besok sekalian anterin aku ya…” pintaku.
“oke kak” jawabnya.
“makasih ya” kataku, air mataku hampir tumpah.
“sama-sama” balasnya.
Telepon kuakhiri. Ada seorang lagi yang ingin kuhubungi. Ia adalah sahabat baiknya sekaligus adik kelas yang kuanggap sebagai adikku. Ilham.

“hallo assalamu alaikum” aku mengucapkan salam
“wa’alaikum salam” suaranya terdengar ramah.
“Ilham Rosyidi?” aku memastikan.
“kak Dita?” ia membalas sapaanku.
“iya. Ilham!!!! Aku kangen kamu…. Gimana kabarmu?” jawabku histeris. Teringat dalam kepalaku kelakuannya saat di teater.
“alhamdulilah baik kak. Kakak sendiri?” dapat kulihat senyum diwajahnya.
“alhamdulilah dek….” Aku turut tersenyum.
“uda pulang dari Paris ta kak?” suaranya masih seperti dulu, meski sedikit berat dan serak.
“sudah. Kemarin. Eh, kamu masih di Gresik ta?” tanyaku langsung to the point.
“iya. Emang kenapa kak?” kulihat dahinya berkerut.
“engg….. mau kuajak ke rumahnya Awang..” jawabku lirih.
“oalah…. Iya. Insya Allah besok bisa.” Ada senyum dalam kalimatnya.
“oke deh. Makasih dek…” kataku kemudian mengakhiri percakapan.
Aku berpikiran hendak menelepon seseorang lagi. Orang ke 5 dalam episode ini. Orang yang membuat dia membenciku dan mejauhiku. Orang yang telah membuatku berjanji. Ya. tekadku sudah bulat.
“assalamu alaikum… ini Fahri?” tanyaku saat ada yng mengangkat.
“iya. Ini siapa?” ia balik bertanya. Aku memang jarang berkomunikasi dengannya.
“ini Dita. dari teater. Inget?” aku bertanya dan menyembunyikan sakit hatiku.
“iya.” tak ada ekspresi dalam suaranya.
“kamu masih di Gresik ta?” aku bertanya sesopan mungkin.
“enggak. Aku ada di Jawa Tengah” jawabnya.
“oalah… ya sudah kalo gitu… maaf ganggu…” jawabku lalu mengakhiri percakapan.
Dia tidak ikut. Sudah kuduga. Kebenciannya padaku tak akan pernah hilang.  Entahlah.

Itu kemarin malam. Sekarang telah pagi dan aku siap dengan rencanaku. Aku mengendarai sepeda pancalku dan menuju kearah Putat, kemudian ke Domas, melewati SMP ku dulu, melewati Bringkang, dan sampai di pasar Menganti.
Aku berhenti sebentar dan menepikan sepedaku di Alfamart. Aku mengeluarkan hp dan menelpon Ilham. Ku katakan padanya kalau aku telah sampai di Pasar Menganti dan aku meneunggunya di sana.
Tak lama kemudian, ada seorang pemuda menghampiriku. Ia terlihat cerah dan bersahabat. Raut wajahnya juga ku kenali. Ilham. Aku merindukan dia.
“kakak nunggu lama ta?” tanyanya.
“enggak kok dek…” jawabku tersenyum dan mengamatinya dari bawah keatas.
“kakak sekarang makin cantik…” godanya.
“justru kamu yang tambah endut…” balasku.
“heheheheh….” Ia hanya terkekeh.
“yuk… ntar puput nungguin…” kataku menaiki sepedaku.
“emang Awang dirumah? Tadi malam aku telepon katanya masih layar……..” jawabnya.
“iya aku tahu…” jawabku menoleh kebelakang.
“Trus?” ia memasang muka tak berdosa.
“sudah… yuk!!!!” aku memancal sepedaku dengan semangat dan jantung berdebar.

Sudah tujuh tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, untung Puput bisa kuajak kerja sama. Heheheheheh, aku terkekeh dalam hati. Aku memang bodoh. Ya, sperti katanya, aku adalah baka yaru, komo yaru. Tapi biarlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar