Jantungku berdegup kencang saat aku memasuki sebuah gang
kecil yang terletak disebelah barat SMPN 2 Menganti. Aku masih ingat alamat rumahnya. Gang 3 RT 4/RW
5. Entah kenapa kakiku gematar, rasanya aku ingin ambruk.
“kakak gapapa?” Tanya Ilham memegangiku dari belakang.
“gapapa kok” jawabku bohong.
“ayo kak. Itu rumahnya” kata Puput menunjukkan sebuah rumah
yang pernah kusinggahi dulu.
Aku menatap mata mereka. Kuucap bismillah dalam hati
kemudian memasuki rumah itu. Ilham-lah yang kusuruh masuk duluan.
“assalamualaikum…” Ilham mengucap salam.
“waalaikum salam…” seseorang menjawab seraya keluar dari
rumah.
“ayo mas silahkan masuk… mbaknya juga…” katanya
mempersilahkan.
“oh iya dek…” jawabku mengikuti langkah Ilham yang masuk
duluan.
Kutebak remaja itu adalah adik Awang. Dan memang benar. Tak
lama ada seorang wanita lebih dari setengah abad, namun masih terlihat cantik
keluar dan menghampiri kami.
“oalah… mau cari siapa ya?” tayanya to the point.
“saya temannya Awang.” Ilham memperkenalkan diri.
“oalah yang dulu pernah main ke sini itu ya?” kata ibunya
Awang, memperjelas.
“iya tante”
“lha kalo yang cewek ini siapa?” sang ibu melihat kearahku.
“saya juga temannya Awang” jawabku menyembunyikan semburat
merah dipipi.
“ohh… terus… ke sini ada keperluan apa?” Tanya beliau.
“ini saya mau nyambangi teman akrab. Kan baru pulang dari
perantauan” kataku menjelaskan.
“pulang dari mana? Kok Awang gak beri tahu?”
“mungkin hpnya Awang tidak aktif. Saya sudah mencoba
menghubungi Awang…” jelasku.
“oalah…. Memangnya merantau kemana?”
“dari Paris bu. Alhamdulilah kontrak sudah habis. Sekarang
disuruh pulang sama ayah ibu…” kataku pelan.
“ohh… gitu… to”
“oya.. ini ada oleh-oleh sedikit buat Awang dan adiknya…”
kataku memberikan oleh-oleh yang kubawa.
“gak usah repot-repot….” Jawab ibunya Awang.
“kira-kira Awang pulangnya kapan tante?” Tanya Ilham.
“waduh… kurang tahu ya….. soalnya baru berangkat Juni
kemarin…. Mungkin 6 bulanan…” terang beliau.
“oalah… apa hpnya Awang ganti? Kok saya telpon selalu
salah?” Ilham bertanya lagi.
“oalah itu…..” aku tidak mendengar percakapan selanjutnya.
Mataku sibuk memandang foto-foto yang terpajang di tembok.
Ada foto keluarga Awang disana. Saat Awang masih kecil,
hingga beranjak dewasa. Mungkin itu foto terakhirnya sebelum ia berangkat
berlayar. Ia terlihat gagah mengenakan pakaian koki dan berdiri bersama
rekan-rekannya dari lain Negara.
Sebuah foto mengagetkanku. Itu foto Awang dengan seorang
gadis. Mereka berfoto begitu mesra. Mereka berdua saling menempel. Meskipun
foto itu kecil, tapi mataku yang minus masih dapat mengenali bahwa itu adalah
Awang.
“ini fotonya Awang sama siapa ya?” tanyaku spontan.
“oohh…. Itu katanya Awang, pacarnya Awang. Mereka udah
tunangan tapi di rumahnya si ceweknya…”
“dan…. ???” aku menoleh dengan kaget.
“ya… berhubung Awang-nya lagi layar, ya gak bisa cepet-cepet
nikah…….” Jawab ibunya Awang dengan entengnya.
Aku merasa hilang arah. Aku menahan air mata yang hampir
tumpah dan mencoba tersenyum seikhlas mungkin. Aku cemburu dengan gadis itu.
Sangat. Aku menatap Ilham dan memberikan kode untuknya agar pulang.
“kalau begitu kami pulang dulu tante….” Pamit Ilham
“kok buru-buru?”
“iya.. setelah ini mau kunjung-kunjung lagi..” jawab Ilham
“tolong sampaikan pada Awang kalau kami kemari ya, Te…”
kataku
“iya…iya… nanti tante sms Awang…. Oya, kamu namanya siapa?”
si ibu menahan pundakku.
“Dita…” jawabku kemudian keluar dari rumahnya.
“permisi dulu Te… Assalamualaikum…” kata Ilham samar-samar.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin menangis
sekeras-kerasnya. Kuputuskan untuk mengayuh sepedaku kearah SMPN 2 Menganti.
Meskipun ada beberapa yang ikut taekwondo, tapi aku tidak peduli. Dapat
kurasakan kalau Ilham mengikutiku.
Awang….. kenapa kau begitu kejam padaku? Aku tahu aku yang salah, taapi aku telah meminta maaf dan berusaha memperbaiki keadaan, tapi
kenapa kau membalaskan dendammu dengan cara begini?
Aku tak kuat menahan air mata lagi. Aku menangis
sejadi-jadinya didepan kelas yang tak kutahu kelas apa.
Aku menangis. Untuk
Awang.
Ia membalaskan dendam…
Ia marah…
Ia…. Tidak mencintaiku…
Tak apa, aku tetap mencintainya, perjanjian ini masih
berlaku!!!!
cerita nyata? :o
BalasHapus