Rabu, 20 November 2013

Seperti Udara (lanjutan 6)

Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis dan kurasakan bahwa mataku kabur. Namun, aku masih bisa melihat sosok yang mendatangiku. Ia tersenyum kecut. Aku mendongakkan wajah dan melihatnya.

“sudahlah mbak….. gak pantes mbak nagis…” ia mencoba menghiburku.
“hiks…hiks…hiks…”
“mbak… kenapa sih mbak? Jangan nagis dong… kan malu dilihat orang…”
“…………………….” Ku tak peduli. Aku masih terisak dengan kepala menunduk.

Kurasakan tangan kekar Ilham meraih pundakku dan membelaiku perlahan. Ia juga mencoba mendongakkan wajahku agar aku bisa menghadapnya. Tapi aku keras kepala. Aku masih saja menunduk.

“mbak…. Aku kan ada di sini…” Ilham berkata lembut. Mau tak mau aku mendongakkan kepala. Aku menatap wajahnya. Masih berkabut. Mungkin air mataku yang menghalangi pemandanganku. Aku mengelap air mataku dengan punggung tanganku.

“sudah… gausah nangis lagi… sampean udah besar…”. Aku tersenyum mendengar pernyataannya. Aku tahu aku sudah berumur 24 tahun, dan tidak pantas bagiku menangis seperti anak kecil.
“heheheeh” aku hanya terkekeh sedih.

Kutatap matanya beberapa lama dan dapat kutemukan sesuatu. Entah apa. Sesuatu itu hangat. Sejak dulu memang Ilham-lah yang paling mengerti mengenai ini.
Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tidak mungkin aku menyusul Awang. Kini, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Ya menunggu. Itulah yang sering kulakukan dulu, saat aku menunggunya agar kami bisa berangkat sekolah bersama.

Aku menunggunya sejak pukul setengah enam, tapi ia muncul pukul enam lebih seperempat. Aku hanya melayangkan senyum jengkel dan geli saat itu. Kemudian aku naik dan duduk dibelakangnya. Aku selalu bilang padanya untuk berhati-hati.
Dan dulu kami sering bertengkar masalah kecelakaan. Aku masih ingat ia tetap ngotot bahwa cerita itu adalah opini. Tapi aku mengatakannya bahwa itu adalah fakta karena memang ada buktinya. Lantas ia menamaiku ‘opini’.
Aku ingat masa-masa itu. Dimana aku belum menyadari bahwa ia mencintaiku. Aku belum tahu. Dan disaat aku tahu, semuanya berubah. Sahabatku…. Dhea tiba-tiba membenciku dan meninggalkanku begitu saja saat ia dan temannya bercanda denganku.

Tapi yang paling menyakitkan adalah saat Dhea, senang melihatku menderita kemudian meninggalkan aku sendiri. Dhea sendiri yang bilang seperti itu. Dan sampai sekarang…. Aku belum bisa memaafkan kejadian tujuh tahun lalu. Meskipun aku dan Dhea telah berteman baik selama itu.

“mbak…” suara rendah Ilham membawaku ke masa sekarang. Aku menoleh.
“maaf” hanya itu yang bisa kuucapkan.
Awang... aku mendongak dan kulihat sekumpulan awan mengarak ke rumahku di Putat. Mungkin sebentar lagi hujan. Entah.

Kuharap Awang disana. Mengikutiku, atau aku yang mengikutinya? Entah. Aku mencintainya. Sangat.
Kali ini bukan rasa suka biasa, tapi cinta.

“aku mau pulang” kataku kemudian berdiri meninggalkan Ilham.
“mbak… kok buru-buru?” Ilham mencegahku.
“iya?” aku menoleh.
“boleh aku main ke rumahnya mbak Dita?” sorot matanya aneh.
“Boleh dong… yuk!!!”

Kami berjalan menghampiri sepeda kami masing-masing. Entah apa yang kupikirkan. Aku hanya menghitung detik agar cepat berlalu dan aku bertemu dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar