Aku tak bisa
menahannya lagi. Aku menangis dan kurasakan bahwa mataku kabur. Namun, aku
masih bisa melihat sosok yang mendatangiku. Ia tersenyum kecut. Aku mendongakkan
wajah dan melihatnya.
“sudahlah mbak….. gak
pantes mbak nagis…” ia mencoba menghiburku.
“hiks…hiks…hiks…”
“mbak… kenapa sih
mbak? Jangan nagis dong… kan malu dilihat orang…”
“…………………….” Ku tak
peduli. Aku masih terisak dengan kepala menunduk.
Kurasakan tangan kekar
Ilham meraih pundakku dan membelaiku perlahan. Ia juga mencoba mendongakkan
wajahku agar aku bisa menghadapnya. Tapi aku keras kepala. Aku masih saja
menunduk.
“mbak…. Aku kan ada di
sini…” Ilham berkata lembut. Mau tak mau aku
mendongakkan kepala. Aku menatap wajahnya. Masih berkabut. Mungkin air mataku
yang menghalangi pemandanganku. Aku mengelap air mataku dengan punggung
tanganku.
“sudah… gausah nangis
lagi… sampean udah besar…”. Aku tersenyum
mendengar pernyataannya. Aku tahu aku sudah berumur 24 tahun, dan tidak pantas
bagiku menangis seperti anak kecil.
“heheheeh” aku hanya
terkekeh sedih.
Kutatap matanya
beberapa lama dan dapat kutemukan sesuatu. Entah apa. Sesuatu itu hangat. Sejak
dulu memang Ilham-lah yang paling mengerti mengenai ini.
Aku tak tahu harus
bagaimana lagi. Tidak mungkin aku menyusul Awang. Kini, yang bisa kulakukan
hanyalah menunggu. Ya menunggu. Itulah yang sering kulakukan dulu, saat aku
menunggunya agar kami bisa berangkat sekolah bersama.
Aku menunggunya sejak
pukul setengah enam, tapi ia muncul pukul enam lebih seperempat. Aku hanya
melayangkan senyum jengkel dan geli saat itu. Kemudian aku naik dan duduk
dibelakangnya. Aku selalu bilang padanya untuk berhati-hati.
Dan dulu kami sering
bertengkar masalah kecelakaan. Aku masih ingat ia tetap ngotot bahwa cerita itu
adalah opini. Tapi aku mengatakannya bahwa itu adalah fakta karena memang ada
buktinya. Lantas ia menamaiku ‘opini’.
Aku ingat masa-masa
itu. Dimana aku belum menyadari bahwa ia mencintaiku. Aku belum tahu. Dan disaat
aku tahu, semuanya berubah. Sahabatku…. Dhea tiba-tiba membenciku dan
meninggalkanku begitu saja saat ia dan temannya bercanda denganku.
Tapi yang paling
menyakitkan adalah saat Dhea, senang melihatku menderita kemudian
meninggalkan aku sendiri. Dhea sendiri yang bilang seperti itu. Dan sampai
sekarang…. Aku belum bisa memaafkan kejadian tujuh tahun lalu. Meskipun aku dan
Dhea telah berteman baik selama itu.
“mbak…” suara rendah
Ilham membawaku ke masa sekarang. Aku menoleh.
“maaf” hanya itu yang
bisa kuucapkan.
Awang... aku mendongak
dan kulihat sekumpulan awan mengarak ke rumahku di Putat. Mungkin sebentar lagi
hujan. Entah.
Kuharap Awang disana. Mengikutiku,
atau aku yang mengikutinya? Entah. Aku mencintainya. Sangat.
Kali ini bukan rasa
suka biasa, tapi cinta.
“aku mau pulang”
kataku kemudian berdiri meninggalkan Ilham.
“mbak… kok buru-buru?”
Ilham mencegahku.
“iya?” aku menoleh.
“boleh aku main ke
rumahnya mbak Dita?” sorot matanya aneh.
“Boleh dong… yuk!!!”
Kami berjalan
menghampiri sepeda kami masing-masing. Entah apa yang kupikirkan. Aku hanya
menghitung detik agar cepat berlalu dan aku bertemu dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar