Hari yang cerah.
Tapi..., mendung menggantung diatas langit.
Ada apa ini?
Aku menatap awang
yang hanya diam membisu.
Angin berembus pelan
menerbangkan daun maple yang mulai berguguran. Musim gugur akan tiba. Hawa
mulai dingin, aku merapatkan sweaterku.
Jarak tempat kerjaku
dari rumah lumayan dekat, itu kalau kau menghitungnya seraya naik mobil. Tapi
kali ini aku ingin menikmati alam. Dan kuputuskan untuk jalan saja. Kira-kira
membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai.
Sepanjang jalan aku
melihat pemandangan yang jarang kutemui ketika aku beragkat naik mobil.
Ada beberapa anak
muda yang bersepeda, beberapa manula y ang jalan-jalan, penjual rotbi, penjual
minuman hangat da masih banyak lagi.
Hal seperti itu tidak
kutemui saat aku berangkat dengan mobil. Aku tidak mau mengotori mobilku dengan
semua makanan itu.
Aku terus berjalan ke
arah tampat yang kutuju. Beberapa kali angina dari kendaraan yang lewat
mengibaskan bajuku.
Ah, musim gugur.
Seperti aroma yang pernah kuhirup.
Pikiranku melayang
beberapa tahun silam. Aku kembali merasakan apa yang terjadi pada waktu itu.
Sekelebat bayangan
singgah dan aku mengikutinya dengan ekor mataku.
“Diiiiiiiiiiiinnnnnnnnn……..
regarder où vous allez!” teriak seseorang yang hampir menabrakku dengan mobilnya.
“désolé” kataku meminta
maaf sambil berteriak.
Aku melanjutkan perjalanan.
Teringat kembali pengalamanku saat hampir tertabrak mobil di depan komplek
rumah, saat aku berumur 9 tahun.
Aku hanya tertawa
geli mengingat kebodohanku pada masa itu.
Matahari semain
meninggi, kulihat jam di pergelagan tangan kiriku. Jam 6.02 kuperkirakan aku
akan sampai pada pukul 7.07.
Jalanan semakin ramai
oleh mobil-mobil yang berlalu-lalang da pengguna trotoar yang terlihat memenuhi
jalan sekitar.
Aku memandang pohon
maple di pinggir jalan dengan kerinduan. Ada suatu simfoni yang kurindukan. Ada
hal yang hilang dalam aku. Dan ada memori yang ingin kuputar ulang. Sebuah teriakan
dalam sanubariku mengagetkanku.
Aku menengadah dan
memandang awan. Ada beberapa awan yang bergulung seperti kapas. Ingatan itu
menggumpal, melayang diantara awan. Bersandar pada awang-awang.
Aku tersenyum saat
menemukan kerangka yang hampir hilang. Aku bersyukur masih mengingatnya.
Ya. Sudah 7 tahun aku
menanti. Kini saatnya aku menagih janjiku.
Dia akan ada di sana.
Diatas awang. Dan aku dibawah sini, di dasar lautan. Aku yakin pasti kami akan
bertemu. Hari yang kunantikan hampir tiba. Sudah tujuh tahun lamanya au
menunggu. Dan kini saatnya……
Saatnya aku menepati
janjiku padamu, janji yang kubuat tujuh tahun silam. Janji yang aku bahkan
merinding saat mengingatnya. Janji yang membuatku tetap hidup. Janji yang telah
membawaku pada mimpi-mimpi indah.
Ah, terlalu puitis….
Tapi, itu benar
adanya.
Janji itu…
Janji ku padamu,
telah mencegahku dari perbuatan konyolku…
Mencegahku dari
kehancuran diriku.
Aku berterima kasih
padamu. Entah kau mempercayai janjiku atau tidak, tekadku telah bulat. Aku akan
menepatinya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar