Rabu, 06 November 2013

Seperti Udara (lanjutan)

Hari yang cerah. Tapi..., mendung menggantung diatas langit.
Ada apa ini?
Aku menatap awang yang hanya diam membisu.
Angin berembus pelan menerbangkan daun maple yang mulai berguguran. Musim gugur akan tiba. Hawa mulai dingin, aku merapatkan sweaterku.

Jarak tempat kerjaku dari rumah lumayan dekat, itu kalau kau menghitungnya seraya naik mobil. Tapi kali ini aku ingin menikmati alam. Dan kuputuskan untuk jalan saja. Kira-kira membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai.

Sepanjang jalan aku melihat pemandangan yang jarang kutemui ketika aku beragkat naik mobil.
Ada beberapa anak muda yang bersepeda, beberapa manula y ang jalan-jalan, penjual rotbi, penjual minuman hangat da masih banyak lagi.
Hal seperti itu tidak kutemui saat aku berangkat dengan mobil. Aku tidak mau mengotori mobilku dengan semua makanan itu.

Aku terus berjalan ke arah tampat yang kutuju. Beberapa kali angina dari kendaraan yang lewat mengibaskan bajuku.
Ah, musim gugur. Seperti aroma yang pernah kuhirup.

Pikiranku melayang beberapa tahun silam. Aku kembali merasakan apa yang terjadi pada waktu itu.
Sekelebat bayangan singgah dan aku mengikutinya dengan ekor mataku.

“Diiiiiiiiiiiinnnnnnnnn…….. regarder où vous allez!” teriak seseorang yang hampir menabrakku dengan mobilnya.
“désolé” kataku meminta maaf sambil berteriak.
Aku melanjutkan perjalanan. Teringat kembali pengalamanku saat hampir tertabrak mobil di depan komplek rumah, saat aku berumur 9 tahun.
Aku hanya tertawa geli mengingat kebodohanku pada masa itu.

Matahari semain meninggi, kulihat jam di pergelagan tangan kiriku. Jam 6.02 kuperkirakan aku akan sampai pada pukul 7.07.
Jalanan semakin ramai oleh mobil-mobil yang berlalu-lalang da pengguna trotoar yang terlihat memenuhi jalan sekitar.

Aku memandang pohon maple di pinggir jalan dengan kerinduan. Ada suatu simfoni yang kurindukan. Ada hal yang hilang dalam aku. Dan ada memori yang ingin kuputar ulang. Sebuah teriakan dalam sanubariku mengagetkanku.

Aku menengadah dan memandang awan. Ada beberapa awan yang bergulung seperti kapas. Ingatan itu menggumpal, melayang diantara awan. Bersandar pada awang-awang.

Aku tersenyum saat menemukan kerangka yang hampir hilang. Aku bersyukur masih mengingatnya.
Ya. Sudah 7 tahun aku menanti. Kini saatnya aku menagih janjiku.

Dia akan ada di sana. Diatas awang. Dan aku dibawah sini, di dasar lautan. Aku yakin pasti kami akan bertemu. Hari yang kunantikan hampir tiba. Sudah tujuh tahun lamanya au menunggu. Dan kini saatnya……

Saatnya aku menepati janjiku padamu, janji yang kubuat tujuh tahun silam. Janji yang aku bahkan merinding saat mengingatnya. Janji yang membuatku tetap hidup. Janji yang telah membawaku pada mimpi-mimpi indah.

Ah, terlalu puitis….
Tapi, itu benar adanya.
Janji itu…
Janji ku padamu, telah mencegahku dari perbuatan konyolku…
Mencegahku dari kehancuran diriku.

Aku berterima kasih padamu. Entah kau mempercayai janjiku atau tidak, tekadku telah bulat. Aku akan menepatinya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar