Apa benar dia membawa oksigen untuk ku?
Dia hanyalah subjek! Begitu sanggah kata hatiku. Tapi, aku tidak menganggapnya sebagai subjek! Aku balik membantah.
Kau menganggapnya sebagai apa?
Aku menganggapnya sebagai bagian dalam hidupku. Tanpanya aku akan mati.
Huh! Omong kosong!
Aku berkata yang sebenarnya. Coba kau pikir, apa manusia bisa hidup tanpa udara?
.................................
Sudah kuduga kau pasti diam. Dan sekali lagi aku mengejeknya. Dia memang lemah.
Udara......
Betapa aku sangat membutuhkanmu...
Tapi...
Kenapa udara dalam atmosferku berkurang? Apakah ini karena ulahnya? Atau ini salahku yang selalu mengabaikannya?
Udaraku semakin pengap. Aku mulai sesak dibuatnya. Bahkan saat aku bersandar dibawah pohon rimbun, aku masih merasa sesak.
Kulihat awan kelabu mengantung diudara. Mungkin akan hujan. Entah.
Akhir-akhir ini awan kelabu sering kulihat menggantung di langit-langit ku. Tapi, saat ku tunggu hujan, hujan tak kunjung datang. Bahkan gerimis pun tidak.
Aku merasakan suatu keanehan dalam udara. Uddara semakin pengap. Aroma busuk, amis, anyir berbaur dalam udaraku. Dimana bau wangi yang dulu sering kurasakan? Dimana awan cerah yang mendatangkan kebahagiaan?
Langit mendung. Awan menghitam.
Udara membalaskan dendam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar