Senin, 02 Desember 2013

Seperti Udara (lanjutan 9)


Perhentian pertamaku adalah sebuah perumahan dimana teman SD ku tinggal. Kini perumahan itu telah banyak berubah sejak terkhir kali aku kesana sebelum keberangkatanku. Aku hanya berputar sebentar kemudian melanjutkan perjalananku ke Domas. Ke SMP ku dulu.

Banyak kenangan yang tercoret disana. Mulai dari bangku di kelas, dinding toilet, dinding kelas, pohon, mading, dan yang utama kenangan itu bertumpuk dalam lembar buku di perpustakaan. Saling menindih dalam gudang tempat penyimpanan alat musik di ruang kesenian. Berjejer pada etalase tempat penyimpanan mukena dan Qur’an di musholla.

Kenangan itu tergantung pada pot-pot bunga anggrek depan kelas 9B, kelasku dulu. Kenangan itu mengintip dibalik jendela ruang kelas. Berbaris pada bangku-bangku kantin yang tertata tak beraturan. Mengalir seiring aliran air pada pancuran di taman. Bergerak bersama dedaunan pohon angsana yang ditiup angin.

Aku menghela nafas, dan saat itu juga kurasakan aku kembali ke masa-masa SMP dulu. Betapa menyenangkan. Semua bagaikan dedaunan yang beterbangan. Dan aku ikut terbang bersamanya.

Seperti Udara (lanjutan 8)

Rutinitas lamaku berulang. Terasa menyenangkan dan membosankan.
Menyenangkan karena aku bisa berinteraksi dengan orang-orang sekitar, membosankan karena setiap hari aku harus melakukan ini. Ini lebih baik daripada aku duduk berdiam diri di rumah, kataku dalam hati.
Setiap hari, mulai pukul 15.00 hingga pukul 20.00 rumahku selalu ramai dengan anak-anak yang hilir mudik. Meskipun aku tidak mendapatkan sertifikat guru, mereka tetap saja datang tanpa henti. Hhmmmhh…… ada setitik kebanggaan dalam hatiku.

Sudah lebih dari sebulan aku seperti ini. Setiap pagi berdiam diri di rumah, dan sorenya sibuk dengan anak-anak yang belajar di rumahku. J
Terkadang aku lelah dan penat, namun saat kudengar suara bening mereka yang berebutan minta dikoreksi olehku, seakan kepenatan dan kelelahan itu berlalu. Seperti debu tertiup angin, pfyuuuuhhh…..

Akhir minggu. Aku tidak ada jadwal mengajar. Aku merencanakan untuk bersepeda. Apalagi telah memasuki bulan September, musim gugur. Bulan dimana aku mendapatkan kado ultah ke-17ku. Kado dimana akan membuat masalah besar. Hampir membawa kehancuran diriku.

Kado dari seseorang yang kupercaya. Kado yang tak pernah kuharapkan. Penyesalan selalu diakhir kalimat. Ya. aku mengakuinya dan tidak ingin mengulanginya lagi.
*************************************************************************************

Pagi menjelang. Setelah sholat aku menonton tv hingga pukul 6. Dan sarapan seraya manonton Disney Channel. Aku merasa J. Selesai sarapan aku mengambil handuk dibelakang dan masuk ke dalam kamar mandi. Entah kenapa aku mandi dengan cepat.

Aku mengeluarkan sepedaku dan mengunci rumah, dan berangkat dengan perasaan tak menentu. Aku tidak tahu kenapa aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Entah, aku tak tahu. Aku membaca bismillah dikayuhan pertama. Kemudian meluncur dengan otak sedikit tenang.

Tidak ada halangan saat aku menyeberangi jalan yang lumayan ramai. Aku melihat beberapa anak memakai seragam khas SMK. Aku tersenyum dalam hati.
Perjalanan Sabtu pagi telah dimulai. Aku mengawali dengan semangat dibarengi dada bergetar. Aku tidak tahu kenapa. Sudah biar saja. Yang penting aku bisa menikmati pagi ini.